Siswa SD Kini Diganjar Beasiswa Penuh dan Laptop

Siswa SD Kini Diganjar Beasiswa Penuh dan Laptop

Siswa SD Kini Diganjar Beasiswa Penuh dan Laptop. Semangat belajar seorang anak kerapkali menjadi inspirasi yang menggugah, dan inilah yang di buktikan oleh Farel (7), siswa kelas 1 SDN 1 Soulowe, Desa Soulowe, Kecamatan Dolo Induk, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Farel mendadak viral di media sosial setelah di ketahui hampir setiap hari ia berangkat ke sekolah pada pukul 03.00 Wita. Aksi unik dan mengharukan ini menarik perhatian publik dan berbagai pihak, yang kini beramai-ramai memberikan bantuan.

Farel, yang dikenal sangat menyukai mata pelajaran matematika, kini menerima apresiasi besar berupa beasiswa pendidikan hingga bantuan perlengkapan sekolah, bahkan sebuah laptop untuk menunjang proses belajarnya.

Rela Bangun Pukul 01.00 Wita Demi Tak Terlambat

Kisah Farel pertama kali di ungkap oleh pamannya, Isman, yang bertugas mengantar Farel ke sekolah. Isman mengaku hampir setiap subuh mengantarkan keponakannya itu. Video yang diunggah Isman, memperlihatkan Farel yang sudah berada di gerbang sekolah saat suasana masih gelap gulita, sontak menjadi trending dan memicu reaksi haru dari warganet.

Menurut Isman, Farel merupakan sosok yang memiliki ketakutan berlebihan terhadap keterlambatan. Rasa takut ini mendorongnya untuk bangun jauh lebih awal dari jam sekolah normal.

“Dia bangun hampir setiap pukul 01.00 Wita dan langsung mempersiapkan diri berangkat ke sekolah. Padahal jam masuk sekolah masih lama, ia tetap memaksa berangkat lebih awal. Dia takut sekali terlambat,” beber Isman.

Meskipun jarak rumah Farel ke sekolah hanya sekitar 1 kilometer, semangat Farel untuk memastikan ia tidak terlambat melampaui logika waktu normal. Keluarga, termasuk sang paman, sempat kebingungan menghadapi kebiasaan unik ini. Semula, keluarga mencoba memarahi Farel agar tidak berangkat terlalu pagi, namun hal itu tidak efektif. Akhirnya, keluarga memilih untuk mencari cara yang lebih baik, yaitu dengan mengantarnya demi keamanan Farel di jalanan yang masih sepi dan gelap.

Bantuan Mengalir: Beasiswa Hingga Modal Usaha

Kepopuleran kisah Farel di media sosial segera memicu simpati dan perhatian dari berbagai tokoh dan organisasi. Bantuan pun mulai mengalir deras, menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap semangat belajar Farel yang luar biasa.

“Katanya beasiswanya sampai tamat, tapi kami belum tahu sampai tingkat apa. Beliau juga kasih laptop dan modal usaha untuk buka kios,” kata Isman, yang mewakili keluarga, saat menceritakan bantuan yang mereka terima.

Beasiswa pendidikan yang di dapatkan Farel di harapkan dapat menjamin masa depannya, mengurangi beban finansial keluarga. Selain beasiswa dan laptop, Farel juga menerima bantuan perlengkapan sekolah lengkap dan uang tunai dari Ketua KONI Sulteng, Fathur Razaq. Bahkan, anggota TNI setempat turut memberikan santunan berupa uang dan baju untuk mengaji.

Bantuan modal usaha yang di terima keluarga juga menjadi kabar baik, mengingat kondisi ekonomi mereka yang sederhana. Ibu Farel diketahui berprofesi sebagai pembuat dan penjual sapu lidi sebagai satu-satunya sumber penghasilan keluarga, setelah ayah Farel meninggalkan rumah sekitar tujuh bulan lalu karena konflik keluarga.

Sosok Farel di Mata Para Guru

Di mata guru-guru SDN 1 Soulowe, Farel dikenal sebagai siswa yang pendiam namun sangat rajin dan disiplin. Guru Farel, Melisawapi, mengapresiasi semangat anak didiknya tersebut.

“Farel itu anaknya aktif di kelas. Dia selalu menjadi yang pertama mengerjakan tugas. Dia tidak pernah bertengkar dengan teman-temannya, bahkan ada temannya yang sering d itegur karena mengganggunya,” ungkap Melisawapi.

Melisawapi menambahkan bahwa Farel adalah anak yang pintar dan selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Meskipun ia baru mengetahui kebiasaan Farel berangkat jam 3 pagi setelah viral di media sosial, sang guru mengaku sangat bangga melihat tekad baja Farel dalam menuntut ilmu.

Kisah Farel bukan hanya tentang bocah yang bangun dini hari, melainkan sebuah refleksi tentang semangat pendidikan dan ketakutan akan kegagalan, yang pada akhirnya memantik kebaikan dan kepedulian kolektif. Kini, dengan dukungan beasiswa dan fasilitas yang memadai. Di harapkan Farel dapat mengejar cita-citanya tanpa harus di bayangi ketakutan akan keterlambatan di sekolah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *